Scroll untuk baca artikel
Ultah Selajur[/caption]attachment wp-att-2256">
Diskominfo Kutim

Dari Jamban ke Peradaban, Kutim Jadikan Gerakan ODF Simbol Martabat dan Kesadaran Kolektif

347
×

Dari Jamban ke Peradaban, Kutim Jadikan Gerakan ODF Simbol Martabat dan Kesadaran Kolektif

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno.

SELAJUR.COM, SANGATTA – Bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), perjuangan menuju 100 persen bebas buang air sembarangan (Open Defecation Free/ODF) bukan sekadar pencapaian fisik, melainkan perjalanan menuju peradaban yang lebih sehat dan bermartabat.
Melalui pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), program ODF kini berubah menjadi gerakan sosial yang mengubah cara pandang warga terhadap kebersihan, kesehatan, dan harga diri.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, mengatakan, sanitasi bukan hanya soal fasilitas, tetapi tentang kesadaran manusia terhadap lingkungannya.

“Ketika warga berhenti buang air sembarangan, itu bukan hanya perubahan perilaku itu perubahan cara berpikir. Mereka sadar kebersihan adalah kebutuhan, bukan kewajiban,” ujarnya.

Deklarasi Kecamatan Kaliorang sebagai wilayah bebas ODF yang bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2025 menjadi momentum simbolis. Ia menandai babak baru dalam perjalanan Kutim membangun masyarakat yang sehat melalui kesadaran kolektif, bukan ketergantungan pada bantuan.

Program ODF di Kutim dijalankan dengan prinsip gotong royong: masyarakat membangun jamban sendiri, pemerintah menyediakan pendampingan teknis, dan kader posyandu menjadi agen perubahan di desa.

“Prinsipnya bukan memberi, tapi menumbuhkan. Kalau masyarakat sudah sadar, perubahan itu akan bertahan lama,” tegas Sumarno.

Gerakan ini membawa dampak langsung terhadap penurunan penyakit berbasis lingkungan seperti diare, stunting, dan infeksi kulit. Namun, Sumarno menilai hasil terbesarnya bukan pada angka, melainkan pada rasa percaya diri masyarakat yang kini hidup lebih bersih dan teratur.

“Sanitasi itu menyentuh harga diri manusia. Lingkungan yang bersih mencerminkan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan,” katanya.

Pemerintah menargetkan seluruh kecamatan di Kutim bebas ODF pada 2026 dan 100 persen sanitasi layak pada 2027. Namun bagi Sumarno, tujuan sejatinya jauh melampaui angka.
“Kita ingin membangun generasi yang tumbuh dengan kebiasaan hidup bersih. Kalau kebersihan sudah jadi budaya, maka itu tanda kita sudah beradab,” ujarnya.

BACA JUGA:  IKM Kutim Jadi Motor Ekonomi Baru, Pemerintah Dorong Konsistensi Mutu untuk Perluas Pasar Nasional

Gerakan ODF di Kutim bukan lagi sekadar program kesehatan, melainkan gerakan peradaban di mana warga, pemerintah, dan alam saling menghormati dalam satu kesadaran hidup sehat adalah bentuk tertinggi dari kemanusiaan.

(adv/diskominfokutim/rs)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *