Scroll untuk baca artikel
Ultah Selajur[/caption]attachment wp-att-2256">
Diskominfo Kutim

Dua Jam Mengaji, Upaya Kutim Bangun Ketahanan Moral dan Toleransi Sejak Dini

271
×

Dua Jam Mengaji, Upaya Kutim Bangun Ketahanan Moral dan Toleransi Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono.

SELAJUR.COM, SANGATTA – Di tengah arus globalisasi dan derasnya pengaruh budaya digital, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengambil langkah strategis dengan memperkuat fondasi moral generasi muda melalui kebijakan penambahan dua jam pelajaran mengaji setiap minggu di sekolah.

Langkah ini menjadi bagian dari gerakan besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim agar menghadirkan pendidikan yang berkarakter, spiritual, dan berimbang antara kecerdasan intelektual dan budi pekerti.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan, pendidikan bukan hanya soal angka akademik, tetapi tentang pembentukan manusia seutuhnya. “Kami ingin siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam moral dan spiritual. Karena itu, kami tambah dua jam pelajaran mengaji setiap minggu,” ujarnya.

Kebijakan ini tidak hanya menyasar siswa Muslim, tetapi juga memperkuat toleransi antaragama. Bagi siswa non-Muslim, sekolah menyiapkan kegiatan pembinaan karakter berbasis nilai-nilai keagamaan sesuai keyakinan masing-masing. “Intinya sama, semua diarahkan pada penguatan moral dan etika,” jelas Mulyono.

Program ini dijalankan secara terstruktur. Dua jam mengaji akan dimasukkan ke dalam muatan lokal (mulok) dan dijadwalkan fleksibel agar tidak mengganggu pelajaran utama. Untuk memastikan kualitas pelaksanaan, Disdikbud menggandeng lembaga pendidikan keagamaan dan pengurus masjid dalam menyiapkan tenaga pengajar. “Guru mengaji tidak boleh sukarela. Mereka harus digaji resmi dari APBD agar program ini berkelanjutan,” tegas Mulyono.

Selain mencetak siswa yang fasih membaca Al-Qur’an, Mulyono menilai program ini memiliki makna strategis, membangun ketahanan moral generasi muda Kutim di tengah tantangan degradasi nilai sosial. “Anak-anak kita tumbuh di dunia yang penuh distraksi. Melalui pendidikan karakter, kita tanamkan nilai-nilai dasar agar mereka tidak kehilangan arah,” ujarnya.

Kebijakan ini disambut positif masyarakat dan tokoh lintas agama. Mereka menilai Kutim berhasil menghadirkan sistem pendidikan yang berakar pada nilai spiritual namun tetap menjunjung kebhinekaan. Dengan program ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu, tetapi juga ruang membangun manusia yang beriman, berakhlak, dan saling menghargai.

BACA JUGA:  Kakao Karangan Didorong Jadi Penyeimbang Ekonomi Non-Sawit di Kutim

(adv/diskominfokutim/rs)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!