SELAJUR.COM, SAMARINDA – Memasuki hari pertama puasa Bulan Ramadan 1446 H/2025 M sejumlah sayur-mayur dan kebutuhan pokok kian melonjak di pasar tradisional di Kota Tepian. Satu diantaranya Cabai.
Dalam pantauan redaksi media ini, harga cabai melonjak secara signifikan. Yakni, mencapai Rp100 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram, atau naik sekitar 90 persen dari harga sebelumnya yang berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.
Dihubungi melalui telepon, Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda Nurrahmani menjelaskan, lonjakan harga cabai ini merupakan yang paling signifikan dibandingkan kenaikan harga bahan pokok lainnya.
“Memang ada kenaikan harga bahan pokok, sekitar Rp500 hingga Rp1.000, namun yang paling mencolok adalah cabai,” sebutnya.
Disdag Samarinda telah melakukan operasi pasar di kantor Dinas Perdagangan untuk menekan harga cabai.
Pihaknya menjual cabai dengan harga Rp80 ribu per kilogram, dengan batasan pembelian maksimal setengah kilogram per orang. Hal ini dilakukan agar lebih banyak masyarakat yang dapat membeli cabai dengan harga terjangkau.
Dia menyebutkan faktor cuaca juga memberikan pengaruh terhadap hasil produksi cabai. Tingginya curah hujan di daerah penghasil cabai membuat produksi menurun. Hal tersebut menyebabkan pasokan menjadi berkurang.
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus berupaya untuk menstabilkan harga bahan pokok, termasuk cabai. Agar tidak memberatkan masyarakat selama bulan Ramadan. Masyarakat diimbau untuk bijak dalam berbelanja dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
“Dengan dilakukannya Operasi pasar diharapkan dapat membantu menekan harga yang terjadi di pasaran,” tutupnya.
Dijumpai wartawan ini di sekitar Pasar Segiri Samarinda, Ilham (47) membenarkan kenaikan harga cabai tersebut. Ia menyebut bahwa, lonjakan ini, telah terjadi sejak minggu lalu. Jelang memasuki bulan Ramadan ini.
“Kenaikan ini sudah terjadi dari kemarin. (minggu lalu, red) secara bertahap. Awalnya, Rp60 ribu. Nah, pas akhir Februari kemarin naik jadi Rp80 ribu. Sampai sekarang, naik lagi menjadi Rp100 ribu per kilonya,” ungkap Ilham berbincang bersama wartawan SELAJUR.com.
Kata dia, faktor penyebabnya adalah pasokan dari distributor yang juga mengalami kenaikan, karena sebagian besar pasokan cabai berasal dari Sulawesi Selatan dan NTB.
“Petani disini (lokal) belum bisa mencukupi kebutuhan pasar di Samarinda. Bisa jadi, pengaruh ini yang membuat harga menjadi naik,” pungkasnya.
[SET/RED]


















