Scroll untuk baca artikel
Ultah Selajur[/caption]attachment wp-att-2256">
Diskominfo Kutim

Kakao Karangan Didorong Jadi Penyeimbang Ekonomi Non-Sawit di Kutim

295
×

Kakao Karangan Didorong Jadi Penyeimbang Ekonomi Non-Sawit di Kutim

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kakao. (Ist)

SELAJUR.COM, SANGATTA – Di tengah dominasi sektor sawit, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat ekonomi rakyat melalui pengembangan komoditas lokal bernilai tinggi. Salah satu komoditas yang diproyeksikan menjadi penyeimbang ekonomi non-sawit adalah kakao dari Kecamatan Karangan, yang produksinya stabil dan berdampak langsung pada kesejahteraan petani.

Camat Karangan, Madnuh menyampaikan, kakao telah menjadi tumpuan ekonomi bagi banyak keluarga petani. “Kalau ditotal, setiap bulan produksi biji cokelat mencapai sekitar 90 ton. Ini angka yang cukup besar dan menjadi bukti bahwa petani kita mampu menjaga produktivitas dengan baik,” katanya.

Karangan Ilir dan Mukti Lestari sebagai dua desa sentra produksi mengelola lahan kakao seluas sekitar 100 hektare. Dengan harga jual Rp 24.000 per kilogram, nilai ekonomi kakao Karangan mencapai Rp 2,1 miliar per bulan angka yang relatif besar untuk wilayah pedesaan.

Pemerintah daerah menilai keberhasilan ini merupakan bukti, komoditas non-sawit tetap memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik. Karena itu, pengembangan kakao menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga keseimbangan ekonomi daerah agar tidak terlalu bergantung pada sawit.

Meski begitu, dukungan dari OPD teknis dinilai penting agar menjaga keberlanjutan budidaya kakao. Madnuh berharap program pendampingan dan pemberdayaan petani terus diperkuat. “Kami ingin kakao tetap menjadi pilihan utama petani. Karena itu, kami berharap ada perhatian dan program berkelanjutan agar pengembangan kakao tidak tertinggal,” ujarnya.

Ia menegaskan, Pemkab Kutim berkomitmen memperkuat sektor produktif non-sawit melalui pembinaan intensif, peremajaan tanaman kakao, dan peningkatan kualitas pascapanen.

Dengan strategi ini, pemerintah optimistis kakao dapat tumbuh sebagai komoditas unggulan baru yang menyeimbangkan struktur ekonomi daerah. “Dengan dukungan pemerintah daerah, kami optimis kakao dari Karangan akan menjadi ikon pertanian rakyat Kutai Timur yang berdaya saing tinggi,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Delapan Penjaga Warisan Kutim, Simbol Keteguhan Budaya di Tengah Perubahan

(adv/diskominfokutim/rs)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *