Scroll untuk baca artikel
Ultah Selajur[/caption]attachment wp-att-2256">
Opini

PKL di DP3A Kaltim: Antara Belajar, Melayani dan Berempati

53
×

PKL di DP3A Kaltim: Antara Belajar, Melayani dan Berempati

Sebarkan artikel ini

Oleh: Nabila Humayra.(*)


PRAKTIK KERJA LAPANGAN
(PKL) bukan sekadar kegiatan rutin akademik, melainkan proses pembelajaran nyata yang menuntut mahasiswa untuk memahami kehidupan sosial secara langsung.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), mahasiswa belajar bukan hanya tentang administrasi dan program kerja, tetapi juga tentang bagaimana empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial diterapkan dalam dunia kerja yang sesungguhnya.

Selama pelaksanaan PKL, mahasiswa diajak menyaksikan dinamika kerja instansi yang berfokus pada isu-isu penting seperti pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Di balik tumpukan berkas dan aktivitas pelayanan publik, terdapat semangat besar untuk melindungi kelompok rentandan memperjuangkan kesetaraan.

Dari sini, mahasiswa belajar bahwa bekerja di instansi pemerintahan bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang melayani dengan hati.

Sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian yang juga diajarkan dalam keilmuan Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam.

Yakni, yakni bagaimana memandang manusia secara utuh, tidak hanya dari aspek lahiriah, tetapi juga batin dan spiritualnya agar setiap tindakan selalu berlandaskan empati, keikhlasan, dan niat membantu sesama.

Bagi saya pribadi, pengalaman di DP3A Kaltim menjadi ruang belajar yang membuka mata. Setiap kegiatan, sekecilapa pun, selalu mengandung makna tentang kepedulian dan tanggung jawab sosial.

Saat melihat bagaimana para pegawai bekerja dengan tulus melayani masyarakat, saya belajar bahwa empati tidak hanya diajarkan di ruang kelas, melainkan juga dipraktikkan dalam tindakan nyata.

Dari sinilah sayamulai memahami arti melayani sebagai bentuk ibadah dan wujud nyata kasih sayang terhadap sesama.

PKL di DP3A Kaltim menjadi refleksi bahwa proses menjadi sarjana yang tangguh tidak hanya ditempa di ruangkuliah, melainkan juga di lapangan.

BACA JUGA:  Codex of Carbon: Intesifikasi Percepatan Akselerasi Perdagangan Carbon di Indonesia

Di sana, mahasiswa belajar untuk berpikir kritis, bersikap adaptif, dan bekerja dengan hati yang peka terhadap sesama. Pengalaman ini mengajarkan bahwa ilmu yang dimiliki akan lebih bermakna ketika disertai kepedulian dan keinginan untuk memberi manfaat bagi orang lain.(*)

*Penulis merupakan seorang mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UINSI Samarinda.

Note: Semua Isi dan Topik Artikel/Opini yang diterbitkan, merupakan tanggung jawab penulis (pemasang). Tidak Berkaitan/Mewakili Dengan Pandangan Redaksi SELAJUR.com.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *