SELAJUR.COM, SAMARINDA — Kehidupan masyarakat Kota Samarinda yang diwarnai beragam latar belakang suku, agama, dan budaya merupakan aset sosial yang sangat berharga.
Namun, menjaga stabilitas serta keharmonisan di tengah heterogenitas tersebut membutuhkan komitmen bersama dari seluruh elemen warga.
Pesan tersebut ditegaskan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Samarinda, H. Syaparudin J.
Menurutnya, kondisi kota yang kondusif tak bisa lahir secara instan, melainkan hasil dari hubungan yang saling menghormati dan menghargai antarpeneluk agama secara konsisten.
“Kerukunan bukan hanya tanggung jawab satu kelompok, melainkan komitmen kolektif seluruh masyarakat. Perbedaan keyakinan yang ada harus disikapi secara bijaksana, di mana setiap umat dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang sekaligus tetap menghormati kebebasan umat lain,” tegas Syaparudin saat ditemui redaksi Selajur.com di ruang kerjanya, Senin (28/9/2026) siang.
Ia menilai, komunikasi terbuka dan silaturahmi yang intentif antarumat beragama menjadi kunci utama dalam meredam potensi gesekan sosial di lapangan. Lewat ruang dialog yang sehat, setiap potensi kesalahpahaman dapat diantisipasi dan diselesaikan secara kekeluargaan.
Sebagai wadah pemersatu, FKUB Samarinda terus berkomitmen mengawal ruang-ruang dialog lintas agama serta mendorong edukasi toleransi hingga ke tingkat akar rumput.
Hal ini sejalan dengan posisi Samarinda sebagai kota heterogen yang kian dinamis sebagai daerah penyangga ibu kota.
Syaparudin berharap, nilai-nilai toleransi dan persaudaraan dapat terus dipelihara sebagai modal utama pembangunan daerah.
“Keberagaman ini adalah keniscayaan dan kekayaan kita. Perbedaan jangan sampai membuat kita terpecah, melainkan harus dikelola menjadi perkat persatuan demi menjaga stabilitas dan kedamaian di Kota Samarinda,” pungkasnya.
[SET/RED]

















