Scroll untuk baca artikel
Lipsus

Seabad Usia Rintih Kasih Sayang Sang Ibu, Sekolahkan Anak Hingga Perguruan Tinggi

183
×

Seabad Usia Rintih Kasih Sayang Sang Ibu, Sekolahkan Anak Hingga Perguruan Tinggi

Sebarkan artikel ini

Sosok wanita tangguh seabad usia dengan ikhlas menggerakkan seluruh tenaganya tanpa belas kasih. Kasih sayangnya tanpa batas seperti butiran pasir di dasar samudera. Tak terhitung berapa jumlahnya. Hatinya setegar batu karang yang terhempas jutaan kali oleh derasnya ombak di lautan.


SELAJUR.COM, KUKAR
– Desa Loa Lepu, Kecamatan Tenggarong Seberang. Menjadi saksi bisu, tinggalnya sosok Ibu hebat. Berusia lebih setengah abad. Lewat, tangan kasarnya yang nyaris menua. Namun, lembut. Dengan, balutan kasih sayang di dalamnya.

Perawakannya sedang, begitu pula badannya yang masih tampak kurus, kulitnya yang semula kencang kini keriput, rambutnya pun sudah memutih semua. Tetapi, mampu membawa kedua anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Berkat usaha dan kerja kerasnya.

Poniah. Begitulah ia disapa. Tak mengelakkan, perjuangan panjangnya, untuk mengais pundi rupiah. Tak seperti kebanyakan orang lainnya. Ia menjejali seluruh bidang pekerjaan. Apapun itu. Prinsipnya terpenting halal dan tak menghalalkan segala cara.

“Saya kerja apa aja asalkan halal, tapi itu baik buat memenuhi makan keluarga saya,” untai katanya.

Dari, menjadi tukang sapu taman, pembantu rumah tangga hingga menjajaki jualan krupuk peyek pun ia lakoni. Walau ia seorang wanita. Bukan hambatan, untuk mendapat rezeki dari tuhan.

“Kerja tukang sapu-sapu taman. Pembantu rumah tangga sampai sekarang. Kita syukuri, bisa hidup berkecukupan lewat itu,” bilang Poniah.

Wanita kelahiran Sanga-Sanga, 28 Maret 1966 ini, tak terlintas akan menjadi apa. Takdir membawanya. Dan menuntunnya entah kemana.

Dalam untaian tulisan ini, wartawan mencoba mengulas jejak langkah sosok wanita hebat itu.

Menempuh Berkilo-Kilo Untuk Bersekolah

Poniah kecil punya keyakinan. Pendidikan, menjadi tujuan hidup. Buat Merubah nasib keluargnya. Terkendala, dengan ekonomi yang tak menentu. Tersimpan, cita-cita kecil itu, dibenak Poniah.

Berkilo-kilo, Poniah kecil berjalan kaki. Untuk mengenyam pendidikan di bangku SDN 006 Sarijaya Kecamatan Sangasanga, Kukar.

“Dulu ya, saya kalau sekolah jalan kaki. Mau gak mau bangun lebih pagi. Jam 6 pagi udah berangkat sekolah,” ceritanya.

“Waktu itu, kadang nunggu motor vespa orang. Kadang juga bareng dengan teman,” tambahnya.

Jika, fajar kian menyingsingkan keelokannya. Terkadang pula, Poniah saat itu, tak gentar akan gelap. Walau, harus melewati lahan pemakaman muslim sekalipun.

BACA JUGA:  Beredar Video Kekecewaan Pasien Viral di Sosmed, RSUD AM Parikesit Tenggarong Seberang Angkat Bicara
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!