Oleh: Topan Setiawan.(*)
KALIMANTAN TIMUR itu ajaib. Kekayaan alamnya pernah bikin dunia gigit jari. Lembaga sekelas WWF pun sampai angkat topi. Sabtu (22/8) pagi itu, di tengah embun yang masih berasap, saya mendadak tertegun. Gara-garanya saya membaca ulang antologi cerpen karya Eko Triono.
Berjudul Agama Apa Yang Pantas Bagi Pohon-Pohon. Sambil membaca, tangan kanan saya menyiram tanaman di pot pekarangan. Otak saya melayang.
Benarkah pohon tak punya agama? Pernah tidak, kita sepintas berpikir bahwa komunitas pohon itu punya agama yang menyatukan mereka. Mari kita sejenak menyelami pertanyaan liar ini. Tampak egois. Tapi, kita butuh ulasan ini.
Oh iya, kita ini sering lupa. Atau sengaja lupa. Bahwa kita butuh alam. Bayangkan saja satu orang butuh 180 sampai 300 kilogram oksigen dalam setahun. Sehari minimal setengah kilo. Setara 2.200 liter oksigen murni. Sementara itu, satu pohon dewasa menghasilkan 1,2 kg oksigen per hari. Cukup untuk napas dua manusia.
Artinya, kalau kita bernapas lega hari ini, ada pohon yang sedang bekerja keras untuk kalian. Gratis. Tapi, manusia sering melihat pohon itu semu. Diam. Seolah tak bernyawa. Maka, dianggap bisa dirombak. Orang-orang tamak melihatnya sebagai peluang. Entah peluang apa. Yang jelas, besoknya pohon itu hilang. Lenyap. Tinggal tunggulnya saja.
Pohon Maha Asyik
Padahal pohon itu Maha-Asyik. Mereka hidup rukun. Tanpa orasi. Tanpa koordinasi (dalam artian para sapiens). Ada yang menumpang hidup dari akar pohon lain, ada yang tak kebagian air hujan karena tertutup tajuk besar tapi mereka tetap hidup. Mereka tak pernah mengeluh. Apalagi memaki. Tak ada pohon yang bilang “Ndasmu!” ke tetangganya.
Jika saya membaca etimologi Sanskerta. Agama itu terdiri dari A (tidak) dan Gama (kacau). Tidak kacau. Artinya Keteraturan. Sedangkan, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menyebutnya sistem tata keimanan dan kaidah pergaulan.
Lantas apa bedanya dengan pohon?
Halaman Selanjutnya >>


















