Scroll untuk baca artikel
Ultah Selajur[/caption]attachment wp-att-2256">
Ragam

Dorong Inovasi Pemanfaatan Limbah, Hetifah : Kemandirian Kaltim Harus Diperkuat

141
×

Dorong Inovasi Pemanfaatan Limbah, Hetifah : Kemandirian Kaltim Harus Diperkuat

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian berfoto bersama narasumber, peneliti BRIN, akademisi Universitas Mulawarman, serta perwakilan Pemerintah Daerah. (Syahrul/Selajur)

SELAJUR.COM, SAMARINDA – Penguatan ketahanan pangan melalui inovasi sektor peternakan menjadi fokus kegiatan Workshop bertajuk “Zero Waste Peternakan: Pemanfaatan Pakan Hijauan dan Limbah Menjadi Lebih Bermanfaat” yang diselenggarakan oleh DPR RI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Mulawarman, dihelat di Ballroom Mandapa, Fugo Hotel Samarinda, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai  kalangan seperti mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, kelompok tani, kelompok peternak, dan media. Tak hanya itu, agenda itu turut menghadirkan Peneliti Nutrisi dan Pakan Ternak BRIN Rantan Krisnan, serta Guru Besar Ilmu Tanaman Makanan Ternak Universitas Mulawarman Taufan Purwo Kesumaning Daru sebagai narasumber.

Hadir pula Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kaltim Fitriansyah, Kepala Bidang Pembibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim Ihyan Nizam, Wakil Rektor IV Universitas Mulawarman Nataniel Dengen, Ketua LPMPP Universitas Mulawarman Hamdi Mayulu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Fahrunsyah, Ketua Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Apdila Safitri, Sekjur Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Khoiru Indana.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian menegaskan, Kaltim memiliki potensi besar menjadi daerah penyangga pangan, termasuk bagi kebutuhan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pasalnya, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki daerah harus diimbangi dengan inovasi agar mampu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.

Berdasarkan tema pemanfaatan limbah yang diangkat dalam kegiatan tersebut sangat relevan dengan kondisi Kaltim yang memiliki area perkebunan kelapa sawit luas. Ia berpandangan, limbah yang selama ini dianggap sebagai sisa produksi bisa diolah menjadi sumber daya baru yang mendukung produktivitas peternakan.

BACA JUGA:  Beranda Imigrasi, Nama Tunggal Baru untuk 254 Unit Pelayanan Keimigrasian

Hetifah menjelaskan ketergantungan terhadap impor pangan perlu dikurangi melalui penguatan produksi lokal. Untuk itu, hasil riset dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian harus dapat diterapkan langsung kepada petani dan peternak sehingga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kita ingin mendorong produksi tanpa membebani lingkungan. Karena itu, berbagai limbah yang selama ini dianggap beban harus bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai tambah bagi sektor peternakan,” tegasnya Legislator RI itu.

Di akhir percakapan, Politisi Golkar itu menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, BRIN, BRIDA, perguruan tinggi, dan pelaku usaha dalam mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Karena, berbagai hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi harus menjadi dasar pengambilan kebijakan dan solusi bagi masyarakat.

“Cara pandang terhadap limbah harus berubah. Dari yang selama ini dianggap sisa produksi menjadi sumber daya potensial, peluang inovasi, dan sumber manfaat yang berkelanjutan bagi pembangunan ketahanan pangan kita,” ungkapnya Hetifah.

Sementara itu, Kepala BRIDA Kaltim, Fitriansyah mengungkapkan, isu pangan menjadi prioritas riset nasional maupun daerah sehingga pengembangan sektor peternakan perlu mendapat perhatian yang lebih besar. Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan karbohidrat, tetapi juga kecukupan protein hewani yang bersumber dari sektor peternakan dan perikanan.

Ia menjelaskan BRIDA Kaltim telah melakukan sejumlah riset terkait pakan ternak bersama BRIN dan BRIDA Kutai Kartanegara. Penelitian tersebut bertujuan untuk mendukung pengembangan peternakan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah meningkatnya kebutuhan pangan di Benua Etam.

“Ketahanan pangan di Kaltim tidak hanya berbicara soal karbohidrat, tetapi juga soal protein dari produk perikanan dan peternakan. Ini harus kita perkuat dengan riset dan inovasi yang kita miliki,” kata Fitriansyah.

BACA JUGA:  Besok, HMPS BKI FUAD UINSI Samarinda Gelar Seminar Disabilitas, Catat Jadwalnya !

Selain riset, dia menilai pengembangan sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi (SDM Iptek) juga menjadi tantangan besar. Saat ini jumlah periset di lingkungan pemerintah daerah masih terbatas, bahkan belum ada periset dengan kepakaran khusus di bidang peternakan sehingga kolaborasi dengan perguruan tinggi terus dilakukan.

Fitriansyah menuturkan, bahwa pihaknya bersama BRIN juga telah memperoleh dukungan riset selama tiga tahun untuk mengembangkan teknologi pakan ternak. Program tersebut direncanakan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Paser yang dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan peternakan.

“Kami berharap dari kegiatan seperti ini lahir SDM yang andal, khususnya di bidang peternakan, sehingga mampu mendukung ketahanan pangan Kalimantan Timur pada masa mendatang,” pungkasnya.

 

[RUL/SET]

Tinggalkan Balasan