SELAJUR.COM, SAMARINDA – Ketergantungan terhadap pasokan air perpipaan dinilai membuat masyarakat rentan ketika sumber air baku mengalami penurunan. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim, mendorong pemerintah menyiapkan cadangan air bersih hingga tingkat rukun tetangga (RT).
Menurut Rohim, pemerintah kota dapat memanfaatkan anggaran yang tersedia dalam APBD untuk membangun sumur bor dan terminal air bersih di kawasan permukiman. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi sumber pasokan alternatif ketika produksi air Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) terkendala keterbatasan air baku.
“Per RT atau kelurahan itu ada backup untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat,” ujarnya, Jumat (23/10/2026).
Rohim menjelaskan, terminal air bersih dapat berupa tandon berkapasitas sekitar 12.000 liter yang dilengkapi instalasi dan dudukan. Pengisian air dapat dilakukan secara berkala dengan dukungan Perumdam dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), menyesuaikan kebutuhan di setiap wilayah.
Skema ini dinilai dapat membantu warga memperoleh akses air bersih tanpa sepenuhnya bergantung pada kelancaran distribusi melalui jaringan perpipaan. Terlebih, kondisi sumber air baku di bendungan yang disebut sudah kritis turut membatasi kemampuan penyediaan air bagi masyarakat.
Rohim menilai persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada Perumdam. Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi melalui pembangunan infrastruktur alternatif agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi saat pasokan utama terganggu.
“Dana yang pasti existing ada. Nah, itu digunakan apa? Digunakan untuk membuat sumur bor air itu,” katanya.
Selain memanfaatkan anggaran daerah, Rohim mendorong Pemerintah Kota Samarinda memperkuat koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Dukungan lintas pemerintahan diperlukan untuk memperluas upaya penanganan, terutama jika kebutuhan infrastruktur dan penyediaan air melampaui kemampuan anggaran kota.
Menurutnya, keberadaan sumur bor dan terminal air bersih perlu dipandang sebagai infrastruktur pendukung untuk memperkuat ketahanan pasokan air di permukiman, bukan sekadar solusi ketika krisis terjadi.
Meski demikian, realisasi usulan tersebut perlu disertai kajian kebutuhan setiap wilayah, ketersediaan sumber air, serta mekanisme pengisian dan pengelolaan fasilitas. Dengan perencanaan yang tepat, cadangan air di tingkat RT maupun kelurahan diharapkan dapat membantu masyarakat menghadapi kondisi pasokan air baku yang terbatas.
[ADV/RUL/SET]















