Scroll untuk baca artikel
Ultah Selajur[/caption]attachment wp-att-2256">
DPRD Kota SamarindaSamarinda

Pedagang Pasar Pagi Samarinda Khawatir Akses Usaha Terputus, DPRD Siapkan Pemanggilan Pihak Terkait

6
×

Pedagang Pasar Pagi Samarinda Khawatir Akses Usaha Terputus, DPRD Siapkan Pemanggilan Pihak Terkait

Sebarkan artikel ini
Komisi I DPRD saat meninjau lokasi sekitar pasar pagi. (Syahrul/Selajur)

SELAJUR.COM, SAMARINDA – Penataan jalan di sekitar Pasar Pagi Samarinda menuai keberatan dari pedagang yang khawatir akses menuju toko mereka semakin terbatas. Selain permukaan jalan yang ditinggikan sekitar setengah meter, rencana pemasangan pagar dan taman dinilai berpotensi menyulitkan distribusi barang hingga menghambat akses kendaraan darurat.

Keluhan tersebut menjadi perhatian Wakil Ketua II DPRD Samarinda, Ahmad Vananzda, saat melakukan inspeksi mendadak di kawasan Jalan Mas Tumenggung Nomor 27, Jumat (23/10/2026). DPRD berencana memanggil pihak-pihak terkait untuk membahas persoalan itu bersama warga terdampak.

Ahmad menilai penataan kawasan tidak boleh hanya berorientasi pada estetika kota, tetapi juga harus mempertimbangkan aktivitas ekonomi dan keselamatan masyarakat. Terlebih, kawasan tersebut masih menjadi tempat usaha pedagang yang membutuhkan akses kendaraan untuk menunjang kegiatan sehari-hari.

“Kalau ada kebakaran, mobil tidak bisa masuk. Termasuk pedagang di sini, kalau mau masuk mobil angkut barangnya, tidak bisa,” kata Ahmad.

Ia juga mempertanyakan kejelasan kepemilikan lahan dan hubungan pekerjaan tersebut dengan proyek pembangunan Pasar Pagi. Menurutnya, pekerjaan jalan itu tidak termasuk dalam satu paket pembangunan pasar.

Ahmad meminta Pemerintah Kota Samarinda tidak melanjutkan bagian pekerjaan yang dipersoalkan warga, terutama rencana pembangunan pagar, taman, dan fasilitas pelengkap lainnya.

“Kami minta Pemkot, untuk jalan yang ada ini sudahlah, tetapi jangan diteruskan lagi pembangunannya, termasuk rencana pembangunan pagar, taman, dan pelengkap lainnya,” ujarnya.

Kekhawatiran warga juga muncul akibat peninggian permukaan jalan. Mereka menilai perubahan ketinggian tersebut berisiko membuat air masuk ke toko ketika terjadi banjir.

Salah seorang warga, Ronal, mengatakan pedagang semula menyambut pekerjaan itu karena mengira jalan akan diratakan atau diaspal. Namun, warga kemudian mendapati permukaan jalan justru ditinggikan tanpa penjelasan yang mereka pahami mengenai desain dan dampaknya.

BACA JUGA:  APBD Perubahan Kukar 2025 Turun Jadi 11,6 Triliun, Ketua DPRD Pastikan Prioritas pada Layanan Publik

“Dari proses pembangunan awal, kami sudah bertanya-tanya, ini apa yang dibangun. Tidak ada penjelasan sama sekali, tidak ada pemberitahuan,” ungkap Ronal.

Ia menyebut warga tidak pernah dilibatkan dalam rapat atau pertemuan untuk membahas rencana penataan. Menurutnya, ketiadaan informasi mengenai denah pembangunan membuat pedagang tidak mengetahui bentuk akhir kawasan maupun perubahan akses yang akan terjadi.

Ronal khawatir rencana pemasangan pagar akan semakin membatasi mobilitas kendaraan, termasuk untuk mengangkut barang ke toko-toko di bagian belakang kawasan. Kondisi tersebut juga dikhawatirkan menyulitkan penanganan apabila terjadi kebakaran.

Karena itu, warga meminta fasilitas yang menghalangi kendaraan dicabut dan akses jalan dikembalikan agar dapat digunakan seperti biasa.

“Kami meminta ini semua dicabut, ini dijadikan jalan saja seperti biasa. Yang menghalangi kendaraan dicabut, kemudian di depan itu diratakan supaya akses kendaraan bisa masuk,” tegasnya.

Menanggapi keberatan tersebut, Ahmad mengatakan DPRD akan memanggil seluruh pihak yang berkaitan dengan pekerjaan, termasuk masyarakat terdampak. Hasil pembahasan nantinya akan dituangkan dalam notulen sebagai dasar tindak lanjut.

Ia menyatakan DPRD mendukung pembangunan yang dilakukan pemerintah kota selama sesuai aturan dan tidak mengabaikan kebutuhan warga.

“Apabila masyarakat tetap meminta dibongkar, kita mendukung masyarakat,” kata Ahmad.

Hingga sidak tersebut, persoalan penataan jalan di sekitar Pasar Pagi masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut. Kejelasan perencanaan, akses usaha, risiko banjir, serta jalur kendaraan darurat menjadi sejumlah hal yang perlu dipastikan sebelum pekerjaan dilanjutkan.

 

[ADV/RUL/SET]